Beranda DAERAH Konflik Buaya dan Manusia

Konflik Buaya dan Manusia

34

Malaka, Kabardaerah.com – Jumat 9/3/2018 Theodorus Tefa mengatakan bahwa Kasih Sumber Daya Alam NTT bekerja sama dengan cagar alam Maubesi Bapak Benyamin selaku Kepala Cagar Alam Hutan Bakau Maubesi.

Kita memasang papan informasi kepada masyarakat supaya mengurangi konflik antara satwa khususnya buaya dengan manusia karena dari data yang ada, bahwa di NTT ini jumlahnya cukup banyak dan tertinggi untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Kemudian kita menghimbau juga supaya masyarakat apabilah beraktifitas di habitat buaya harus memperhatikan keselamatan diri.

Tim Balai Konserfasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengharapkan supaya petugas di cagar alam Maubesi selalu menghimbau kepada masyarakat, agar berhati – hati jika berada di dekat tempat habitatnya buaya sehingga angka korban dari serangan buaya ini bisa mengurang.

Karena manusia penting satwa juga penting sebab statusnya di lindungi jadi masyarakat harus tahu bagaimana mengatasi konflik tanpa harus mebunuh.

Mengadakan tindakan penyuluhan bahwa buaya ini dilindungi lewat UU no 5 tahun 1990 peraturan pemerinta no 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar.

Sehingga pemasangan papan ini dilibatkan petugas dari kepala resor cagar alam Maubesi untuk bisa mengkordinasi dengan instansi terkait dalam hal ini kepolisian setempat, pemerinta desa setempat, kecamatan dan khususnya PEMDA bahwa salah satu langka sebagai aksi nyata dari Balai Besar Konserfasi untuk melaksanakan apa yang telah di sepakati pada saat melakukan seminar di PEMDA.

Bere Benyamin Kepala cagar alam hutan bakau Maubesi mengatakan ada beberapa titik yang di pasang dim aka tengah 2, welinan 2 , dan akan di lanjutkan ke malaka barat .

Selain di Kabupaten Malaka, kita juga akan melakukan kegiatan tentang pemasangan papan yang sama di lokasi konflik kabupaten belu bertepatan di kolam susu kemudian di teluk gurita, ponu dan wini. Papan informasi yang di bawah sebanyak 11 yang terbanyak kita pasang di kabupaten malaka kata Theodorus Tefa yang menjabat sebagai Polisi Kehutanan.

Balai Besar Konserfasi Sumber Daya Alam dan mempunyai tim khusus untuk penanganan konflik satwa yang namanya Unit penanganan satwa yang di bentuk oleh balai besar dalam hal ini oleh kepala balai Tamen sitorus, sehingga kita bisa merespon semua konflik khususnya Buaya dan manusia yang berada di daratan timor bahkan sampai di Flores, lembata, dan riung.

Untuk Seluruh indonesi Tim kita di NTT ini yang pertama sehingga sudah ada tim kita yang pergi untuk mengadakan pelatihan kepada tim yang berada di Sumatra barat, Medan,, kalimatan Timur, Kalimantan tengah dan sulawesi tengah.(*Joy/Ano)